Berkenalan dengan Kecewa

Apa kau tahu rasanya kecewa ? menurutku semua orang dimuka bumi ini pernah merasakan pahitnya kecewa, tanpa terkecuali, bahkan pejabat negara, pedagang, guru, remaja, dewasa, siapapun pernah mencercapi rasa kecewa. 
Dan apasih arti kecewa yang sesungguhnya?
Arti  kecewa dari Kamus Besar Bahasa Indonesia adalalah dkecil hati; tidak puas (karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dan sebagainya.
Bagiku Kecewa adalah ketika kita terlalu tinggi menggantung harapan pada sesuau hal entah itu orang, situasi, dan lainya sebagainya. Akan tetapi antara harapan dan kenyataan berbanding terbalik, tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. 


Aku adalah seorang perempuan aku lahir 20 tahun yang lalu, Ya aku generasi manusia abad 90'an. Aku bersyukur terlahir sebagai perempuan. Dan perempuan adalah makhluk si Perasa, kebanyakan perempuan mengunakan hatinya. Begitupun berteman ketika kita nyaman dengan seseorang kita tidak memandang status sosial dan juga bukan melihat dari segi materi,dan derajat. Manusia adalah makhluk sosial. Didunia ini kita tidak bisa hidup sendiri.Kita perlu berinteraksi dengan orang lain. Mungkin karena  dikehidupan ini aku berperan sebagai  seorang anak tunggal yang menjadikanku sangat menyukai bersosialisasi. Lebih tepatnya aku suka berteman entah itu dengan siapa saja, dan dimana saja. Aku cenderung excited ketika berjumpa dengan hal baru atau orang yang baru kukenal. Seperti mendapat saudara atau serasa memliki saudara. Lebih tepatnya menambah Ukhuwah Islamiyah. Menjadi anak semata wayang membuatku berpandangan bahwa didunia fana ini indah dan juga manusia-manusianya sangat baik. Mungkin karena selama ini orangtuaku, keluargaku, dan orang disekelilingku sangat baik. Mereka menunjukkan bahwa keadaan yang aku alami semejak bayi merah sampai aku berada di bangku Sekolah Menengah Atas sangat indah. Lebih tepatnya saya dimanja oleh orangtua dan keluarga besar saya.

Setelah aku meginjak usia 17 tahun, dan berada di bangku SMA. Perlahan namun pasti, aku menyadari bahwa kehidupan tidak selalu indah dan mulus seperti seluncuran anak balita. Aku berteman dengan seseorang, kami tidak ada batas, aku tahu semua yang ada pada dirinya, begitu sebaliknya. suatu saat dia berubah membenciku, dia teramat sangat membenciku. Aku berfikir kesalahan apa yang kulakukan hingga membuat dia seperti itu? Dikatakan sedih, sangat jelas itu pertama kalinya, aku bertengkar dengan seorang teman. Aku tak pernah melewatan satu hari saja untuk dengan dia,dari pukul 06.45 sampai dengan 14.30 ku habiskan dengan dia. Kita tak ada jarak, kekantin, ke toilet, ke ruang guru semuanya bersama. Akhirnya aku tahu bahwa dia sangat mengiginkan memiliki keluarga yang utuh. Dari itu saya menyadari, aku bersyukur memiliki keluarga yang lengkap dan kedua orangtuaku menyayangiku. Dan ada dimana posisi yang kita anggap membosankan, ternyata bagi orang lain sangat berarti. Dari itu aku belajar, sayangilah, rawatlah, syukurilah apa yang kamu miliki sekarang. Dan bahwa ada sesuatu yang harus diceritakan dan tidak. Bagaimana kamu harus menghargai dan mengerti kondisi sahabatmu. Semenjak itu aku beranggapan bahwa bertemanlah sewajarnya saja jangan berlebihan. Berawal dari itu pula, saya menjaga jarak dan tidak terlalu percaya yang namanya teman. 

Tahun 2014, untuk pertama kalinya aku belajar yang namanya Mandiri. Bagaimana tidak, aku harus menuntut ilmu di Kota Sebelah. Dan membuatku jauh dari Ibuku. Sulit? Jelas sulit, untuk anak Semata Wayang, Anak Tunggal, Anak Mama sepertiku. Dari situ, aku belajar lagi membuka diri untuk orang-orang dan percaya lagi bahwa teman diperantauan seperti saudara sendiri. Apalagi kita memiliki nasib yang sama hidup diperantauan.  Masak, makan, nyuci bareng, nonton bareng, ngerjain PR bareng, hujan-hujan bareng, sampek mandi bareng. ( waktu kepepet dan kamar mandi penuh semua, please jangan mikir aneh-aneh, saya masih normal). Tapi, semua itu sirna, ketika membuat suatu keputusan yang membuatku kecewa amat sangat. Aku memaafkannya. Tapi membuatku berjarak dan membuatku takut mempercayai seseorang lagi.

Tapi, anggapan itu mulai sirna ketika ku menemukan Sahabat/i Raden Sa'id. Disana aku mengerti bagaimana setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Aku menegrti bahwa sahabat perlu yang namanya, menghargai dan dihargai, mendengar dan didengarkan.
Persahabatan tak terjalin secara otomatis ataupun instan. Tapi membutuhkan proses yang panjang. Persahabtan akan diwarnai dengan bermacam pengalaman suka dan duka, dihibur dan disakiti, diperhatikan dan dikecewakan, didengar dan diabaikan, dibantu dan ditolak. Namun semua itu tak pernah sengaja di lakukan dengan tujuan karena kebencian.
Seorang sahabat tak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindar dari perselisihan, namun justru lantaran kasihnya dia memberanikan diri untuk menegur apa adanya.Landasan bangunan persahabatan adalah saling percaya dan hormat. Engkau bisa memiliki rasa hormat kepada seseorang akan tetapi jika tidak memiliki kepercayaan, maka yakinlah jika persahabatan akan runtuh.

Hei sahabat memang sang waktu saat ini belum memberi kesempatann untuk menawarkana pertemuan dengan kalian. Meski dari kejauhan, ingin rasanya kutepuk pundakmu. Ingin kunikmati air mukamu yang berubah riang ketika mata kita saling bertemu. Ingin kutagih semua penjelasan karena kau masih berhutang cerita perihal kehidupanmu yang sekarang.Berada di Kota Tahu ini, tak ku sesali . toh kalau aku bersekolah di Universitas bertitle, belum tentu juga aku bisa mendapat sahabat seperti kalian. Terimakasih telah hadir dalam kehidupanku. aku bahagia menjadi bagian dari hidup kalian. Aku dan kamu lahir dari rahim pergerakan yang sama. kita satu jiwa dalam badan yang berbeda-beda.

Sekali lagi, tak ada yang berbeda meski kita terpisah jarak, ruang, maupun waktu. Aku disini sedang lekat-lekat mengingat tentang kalian. Kau pun pasti tak begitu saja melupakan aku sebagai sahabatmu.
Rasanya canggung sekali menyebutmu sahabat mengingat kita biasa bertukar sapaan kasar. Aku yang nyaman menyapamu dengan Blek, Ton, pesek, patondot, setu, cungkring, tang, cila, pit, nop, yah, pah, qih, ulpret, yung, as, lil, wit, khid, pak, al, di, dzul, az, leh, som, win, sar, yen, kot, . Dan kau pun lebih suka memanggilku dengan cerewet, adek kecil, cilik . Nama-nama yang sekenanya memang justru menjadikan kita terikat erat, kan?

Aku rindu senampan berlima bahkan bersembilan mencercapi buir-bulir nasi dengan lauk seadanya.
Aku rindu ketika setelah selesai agenda, dan lelah telah merenggut semua semangat dan akhirnya terlelap dengan berbebagai macam arah, aku sering menyebitnya "tidur seperti gerih petek".
aku rindu berbagi remah-remah tawa dan mencerapi rinai air mata – bersama.
Berjanjilah. Jangan pernah merasa sendiri. Meski tak langsung bisa mendampingi, kau perlu tahu bahwa dukunganku selalu bisa kaudapat bahkan hanya lewat satu jentikan jari.


NB: Dan terimakasih untuk hari ini. Untuk seorang sahabat yang menyambung silturahmi denganku.
Hai Sahabat, jauh sebelum hari ini, aku sudah memaafkanmu. Bagiku kamu itu luar biasa. Tidak semua orang mau dan mampu mengakui kesalahannya. Dan kamu mampu melewati itu semua. Toh manusia tidak selalu benar , dan tidak luput dari segala kesalahan. Dengan adanya kejadian itu kita semua bisa mengambil hikmah masing-masing. Kita dapat pelajaran sendiri-sendiri, bagaimana berinteraksi dengan sesama harus dengan saling menghormati. bukankah setiap orang punya masa lalu? Toh masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran. Sekarang bagaimana caranya untuk kita sama-sama memperbaiki diri lebih baik lagi.
Seorang sahabat tak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindar dari perselisihan, namun justru lantaran kasihnya dia memberanikan diri untuk menegur apa adanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Hati Anak Tunggal

Lelaki Sejati Tidak Bermain Barbie.

Nilai Dasar Pergerakan (NDP) sebagai KOMPAS Pengungat dan Petunjuk Insan Pergerakan