Destiny
Kita memiliki beragam agama suku bangsa, bahasa, flora dan fauna.
Kadang ada beberapa orang tak bisa melanjutkan hubungannya
karena perbedaan masalah suku, agama, tradisi lokal untuk mematuhi segala norma-norma yang telah ada di masyarakat, entah norma agama, norma sosial. Kadang ada sebagian masyarakat dan daerah tertentu, menetapkan dalam pernikahan mensyaratkan untuk masuk suku ini, ndak boleh sama suku itu, ataupun yang lain. Aku tak mengatakan suku, agamaku paling benar, aku juga tidak mengatakan agamamu, sukumu tidak baik.
.
Jika dihadapkan dengan sepertu itu, atau ditempatkan di posisi tersebut, mungkin aku juga bingung harus bagaimana? Disisi lain bukan tak mau, karena aku egois. Tapi yang ku fikirkan jika kelak aku menikah dengan syarat seperti itu. Ku kasihan pada keturunanku kelak, karena jatuh cinta, tak mengenal syarat, bisa jatuh cinta ke siapapun diluar suku, agama, negara. Ku hanya tak mau keturunanku kelak, juga ikut merasakan seperti bapak ibuknya. Jikapun aku ingin menikah, ku ingin dia tetap berada di keyakinanny, suku agama, bangsanya dan juga akupun juga sebaliknya. Bukankan kita memang berbeda? tak bisakah kita bekerja sama ? Jadikan lah perbedaan itu indah, perbedaan tak mesti harus disamakan. Tapi ayoh sama-sama bekerja sama. Jika diluar sana perbedaan menyebabkan perpisahan, ayo kita berikan contoh yang baik, ayo kita buktikan bahwa dengan perbedaan itu kita mampu.
.
.
Bukankah dalam pernikahan itu yang paling penting kotmitmen?
Berkotmitmen itu sama saja dengan kerja sama. Tapi kalau dia merasa tidak bisa bekerjasama dwnganmu. Setelah mengenalmu cukup lama, cukup dekat, apa yang harus dipaksa ?
Jika memang harus kandas sebelum bersemi, Yasudah kenapa harus mempermasalahkan? Setidaknya aku pernah berjuang sejauh ini satu dasawarsa ini. Apa kau tak menyesalinya? Tak ada yang harus disesali, semua ada resiko dan hikmah masing-masing.
Aku percaya dengan segala garis takdir yang Allah tentukan untukku.
Kadang ada beberapa orang tak bisa melanjutkan hubungannya
karena perbedaan masalah suku, agama, tradisi lokal untuk mematuhi segala norma-norma yang telah ada di masyarakat, entah norma agama, norma sosial. Kadang ada sebagian masyarakat dan daerah tertentu, menetapkan dalam pernikahan mensyaratkan untuk masuk suku ini, ndak boleh sama suku itu, ataupun yang lain. Aku tak mengatakan suku, agamaku paling benar, aku juga tidak mengatakan agamamu, sukumu tidak baik.
.
Jika dihadapkan dengan sepertu itu, atau ditempatkan di posisi tersebut, mungkin aku juga bingung harus bagaimana? Disisi lain bukan tak mau, karena aku egois. Tapi yang ku fikirkan jika kelak aku menikah dengan syarat seperti itu. Ku kasihan pada keturunanku kelak, karena jatuh cinta, tak mengenal syarat, bisa jatuh cinta ke siapapun diluar suku, agama, negara. Ku hanya tak mau keturunanku kelak, juga ikut merasakan seperti bapak ibuknya. Jikapun aku ingin menikah, ku ingin dia tetap berada di keyakinanny, suku agama, bangsanya dan juga akupun juga sebaliknya. Bukankan kita memang berbeda? tak bisakah kita bekerja sama ? Jadikan lah perbedaan itu indah, perbedaan tak mesti harus disamakan. Tapi ayoh sama-sama bekerja sama. Jika diluar sana perbedaan menyebabkan perpisahan, ayo kita berikan contoh yang baik, ayo kita buktikan bahwa dengan perbedaan itu kita mampu.
.
.
Bukankah dalam pernikahan itu yang paling penting kotmitmen?
Berkotmitmen itu sama saja dengan kerja sama. Tapi kalau dia merasa tidak bisa bekerjasama dwnganmu. Setelah mengenalmu cukup lama, cukup dekat, apa yang harus dipaksa ?
Jika memang harus kandas sebelum bersemi, Yasudah kenapa harus mempermasalahkan? Setidaknya aku pernah berjuang sejauh ini satu dasawarsa ini. Apa kau tak menyesalinya? Tak ada yang harus disesali, semua ada resiko dan hikmah masing-masing.
Aku percaya dengan segala garis takdir yang Allah tentukan untukku.
Komentar
Posting Komentar