Anak Tunggal Tidak Terkekang

Saat ini usiaku telah lebih dari kepala dua, tepatnya 21 tahun pada bulan Maret lalu. Usiaku yang sudah melewati 17 tahun bagi sebagian orang menganggap dewasa.   Tapi, bagi  kedua orang tuaku itu tidak berpengaruh, mereka tetap memandangku sebagai anak kecil. Berbagai aturan yang sejak dulu ada seakan tidak akan pernah kadaluarsa.

Pernah ngga sih kalian merasa dibatasi oleh orang tua kalian? Merasa tidak bebas karena apa2 dilarang? Anggapan bahwa aku masih tidak bisa melihat mana yang baik dan buruk seolah menjadi alasan mengapa mereka bersikap seperti itu. Selalu “menuntun” anaknya seakan menjadi kewajiban abadi.
Mau kemana? Sama siapa? Ngapain aja? Pulang jam berapa? Kok bajunya begini? Kok bawa itu? Jangan begini. Jangan begitu. Ngga boleh kesini. Ngga boleh kesitu.Terlalu sering kalimat itu terucap, sampai terkadang aku jabarkan dulu semua kegiatan yang akan aku lakukan seharian sebelum mereka sempat berkomentar. 
Bebas,  lepas tanpa batas,  aku sering kali iri hati dengan mereka yang bebas.  Bebas dalam artian dapat memilih, pilihan yang mereka sukai. Sedangkan aku biasanya pilihan-pilihan itu mungkin hanya sebuah wacana,  tidak dapat terealisasikan. 
⏺Seperti Mereka bebas memilih pakaian apa yang mereka sukai entah itu modelnya,  warnanya atau bahannya. Seringkali ketika aku keluar ibuku sering menanyakan " kenapa beli itu,  itu tidak cocok warnanya,  jangan pakai itu,  kainnya tipis,  
⏺Bebas keluar kemana saja,  mereka bisa memilih pergi pantai yang biru dan deruan ombak. Mendaki gunung bersama teman sejawat ataupun mengunjungi teman di luar kota karena menempuh pendidikan yang semakin sulit sekali bertatap muka. Atau hanya sekesar menikmati secangkir kopi. Sesuatu seperti itu sulit sekali ku lakukan,  toh kalaupun di izinkan, aku harus merayu mereka beberapa hari. Dan menyakinkan bahwa aku bisa dan tidak akan terjadi apa-apa. Seolah-olah mereka masih melihat kalian sebagai bocah yang gampang diculik.
⏺Pilihan untuk memilih sekolah,  bagiku memilih sekolah itu sulit apalagi sebuah jurusan. Yang ku pilih adalah jurusan arsitek,  selaras dengan jurusanku dulu waktu di SMKN 1 Nganjuk yakni Teknik Gambar Bangunan.  Sedangkan Sekolah atau universitas yang kuimpikan itu hanya ada di kota-kota besar seperti Malang,  Surabaya, Yogyakarta dan itu jauh dari rumah. Yang membuatku harus meninggalkan rumah.  Itu yang membuat ayah ibuku melarangku melanjutkan kuliah di jurusan Arsitek.   Tak apa aku saat ini ku tanggalkan cita-citaku yang satu ini.  Demi menggapai ridhoNya, bukannya ridho orang tua,  ridho Allah SWT?  Toh hikmah yang atas pilihanku  saat ini adalah aku mengerti tentangNya,  tentang interaksi secara Islami dimasyarakat sehari-sehari. Yang tak mungkin kudapatkan di kuliah berTitle. Apa gunanya kuliah di bertitle tapi tak mengerti akan Dia?  Bukannya Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.   
Hal semacam itu masih kental kurasakan. Terlebih lagi orang tuaku tak bisa melarang orang lain kecuali aku, karena hanya aku satu-satunya anak yang mereka punya.
Hal itu membuatku sadar, bahwa apa yang kuterima semata-mata adalah bentuk nyata dari sebuah kasih sayang. Sebuah sikap spontan yang tercipta karena rasa takut kehilangan.
Perasaan beruntung sudah sepatutnya aku rasakan. Mengingat kedua orang tuaku tak pernah sedetikpun lepas memikirkan anak semata wayangnya.
Seharusnya aku merasa bangga, karena aku menjadi anak dengan kasih sayang utuh dari kedua orangtua.
"Terima kasih ayah dan ibu, senangnya memiliki kalian tanpa harus berbagi."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Hati Anak Tunggal

Lelaki Sejati Tidak Bermain Barbie.

Nilai Dasar Pergerakan (NDP) sebagai KOMPAS Pengungat dan Petunjuk Insan Pergerakan