Surat Terbuka Untukmu "jika pasanganmu seorang putri tunggal"

Menjadi Anak Tunggal tak pernah terfikirkan sama sekali dibenakku. Setiap makhluk yang diciptakanNya berpasang-pasangan. Tapi, jika pasanganmu kelak adalah aku. Aku yang Anak Tunggal dan Aku adalah seorang Perempuan.
Sebagai anak satu-satunya, orangtuaku, seluruh perhatiannya terpusatkan kepadaku. Tak adanya kakak ataupun adik, membuat orangtuaku tidak perlu membagi-bagi kasih sayangnya. Mereka menyadari bahwa hanya ada satu titipan yang Tuhan berikan dan paling berharga untuk mereka. Oleh karena itu, mereka melimpahkan semua kasih sayang dan perhatian yang mereka punya padaku.
Ayah dan ibuku akan sungguh-sungguh menjagaku dengan segenap hati dan kekuatan. Meskipun terkadang mereka sering bersikap protektif padaku, tapi itu semata-mata karena mereka tak ingin lalai dalam menjaga anak semata wayangnya. Aku adalah sebuah keistimewaan bagi mereka, dan keberadaanku melengkapi rumah tangga kecil mereka yang sudah mereka impikan sejak dulu.
Tapi, usiaku terus bertambah membuatku berpikir, Memang semua keinginanku tercukupi, tapi dengan segala keistimewaan dan kemewahan yang aku dapatkan, akulah satu-satunya tumpuan dan harapan orangtuaku kelak. Kemewahan yang diberikan oleh orangtuaku itu bukan bremaksud mendidikku untuk jadi anak yang manja, tetapi semata-mata agar kamu bisa meneruskan perjuangan orangtuaku kelak ketika mereka sudah tak lagi punya banyak tenaga

Saat inilah aku merasa menghadapi pilihan yang sulit. Aku harus menyusun rencana hidup sebaik mungkin dengan menjadikan orang tuaku sebagai prioritas utama. Aku tegaskan jika aku tidak lagi bisa bertindak semauku hanya untuk kepentinganku saja. Aku satu-satunya harapan untuk mewujudkan mimpi mereka.   Berharap agar kelak aku menjadi bintang di tengah kegelapan mereka. Apa kau  mengerti? 

Teruntuk kamu (yang kelak menjadi jodohku) apakah kamu mau mendampingi dan menunggu ku hinggaku mewujudkan dan membalas kerja keras mereka selama hidup mereka hanya untukku. Aku ingin meyelesaikan pendidikanku tepat waktu. Aku ingin membuat mereka bangga setidaknya Putri Tunggal mereka menjdi Perempuan yang bermanfaat untuk sekitarnya. Aku ingin bekerja, menghasilkan uang degan kerja kerasku sendiri. Pasti bahagia membelikan sesuatu daari hasil keringatku sendiri.
Aku tidak ingin seumur hidupku bergantung dan meminta uang dari orangtuaku maupun kamu.


Untuk menikah muda, seperti teman-temanku yang berencana untuk menikah muda,jelas ada. Tapi aku, sekali lagi aku tetap tidak ingin egois. Bagaimana nanti jika aku menikah muda dan segera berkeluarga. Bukankah, aku harus membagi perhatianku untuk orang tuaku dan keluarga baruku? Baik itu kasih sayang, waktu, dan uang yang aku hasilkan nanti harus di bagi dua dan aku tidak menjamin itu akan sama rata. Karena suami dan anakku adalah keluarga baruku. Keluarga yang akan mendampingi dan mengisi masa depanku, maka sudah pasti merekalah yang secara manusiawi akan aku utamakan. Lalu bagaimana dengan orang tuaku? Mereka sudah bekerja keras membesarkanku, mendidikku, dan membahagiakanku. Hanya untukku dan tidak pernah terbagi sampai kapanpun bahkan jika keluarga baruku datang. Lantas kapan mereka akan menikmati hasil kerja kerasnya terhadapku?

Aku tetap ingin membalas jerih payah orang tuaku terlebih dulu. Mewujudkan semua impian dan keinginan mereka dengan kerja kerasku. Sampai akhirnya tiba waktu dimana aku siap untuk mendua. Menyambutmu sebagai keluarga baruku dengan tenang. 

"Jadi apa tanggapanmu wahai jodohku?. Apakah kamu akan menungguku sampai kuselesaikan semuanya, sehingga nanti aku akan bisa fokus untuk kita? Ataukah mungkin kamu akan menyangkal keputusanku dan berkata jika kamu akan berjalan disisiku. Bersama-sama kita saling membantu membahagiakan orang tuaku dan orang tuamu dan kamu berjanji tidak akan menuntut seluruh waktu dan perhatianku."
Ingatlah meskipun begitu, saat kamu datang nanti kamu tetap tidak bisa membawaku pergi. Aku akan tetap tinggal disisi orang tuaku. Aku anak tunggal, hanya aku yang akan menjadi tumpuan mereka ketika mereka sudah tidak bisa saling merawat satu sama lain. 

Maukah kau menemaniku melewati semuanya??




Kediri, 21 Oktober 2016



Dari Perempuanmu Seorang Anak Tunggal





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Hati Anak Tunggal

Lelaki Sejati Tidak Bermain Barbie.

Nilai Dasar Pergerakan (NDP) sebagai KOMPAS Pengungat dan Petunjuk Insan Pergerakan