Bacalah !!!

Salah satu aspek pendidikan yang merupakan jalan memperoleh ilmu dengan cara membaca.
Dan apa definisi sesungguhnya dari membaca ?
Membaca adalah kegiatan meresepsi, menganalisa, dan menginterpretasi yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan( wikepedia).
Membaca merupakan perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerja sama beberapa keterampilan, yakni mengamati, memahami, dan memikirkan (Jazir Burhan dalam St.Y. Slamet, 2008:67).
Dalam Kamus Besar Indonesia sendiri membaca memiliki arti "melihat dan menghayati apa yang tertulis".
Dari berbagai pengertian membaca di atas, dapat ditarik simpulan bahwa kegiatan membaca adalah memahami isi, ide atau gagasan baik yang tersurat maupun tersirat dalam bahan bacaan.
Dalam Islam sendiri menekankan begitu pentingnya membaca. Terlihat dengan jelas bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surat "Al-Alaq " yang ayat pertama berbunyi "Iqro" yang artinya "Bacalah!". Ayat tersebut merupakan ayat perintah yang di firmankan Allah Swt kepada kita untuk membaca. Allah tidak akan memerintahkan kepada hambaNya tentang sesuatu melainkan sesuatu itu akan membawa manfaat untuk hambaNya. 
Membaca dalam arti luas tak hanya membaca teks tertulis, tapi kita juga bisa membaca non teks , seperi membaca alam, membaca keadaan, memvaca kondisi seseorang. Dengan membaca seseorang dapat memahami dan mempelajari apa yang tidak diketahui, menambah wawasan, mendapat pengalam hidup, menyegarkan pikiran, mendapat ilmu.
Kita diajarkan membaca sejak bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 1. teringat lekat dikepala bagaimana guru dibangku sekolah dasar dengan telatennya mengajarkan memabaca dengan metode mengeja.
Biasanya awal belajar mengeja bacaan pada zaman SD dulu selalu diawali dengan kalimat “Ini Ibu Budi” atau “Ini Bapak Budi” dengan menggunakan "duding", iya istilah  jawa (untuk menyebut kayu biasaya terbuat dari pohon bambu berfungsi untuk menunjukkan huruf yang akan dieja dipapan tulis). Bagaiman dulu dengan antusiasnya anak-anak diajarkan mengeja kalimat.
Bagaimana tentang minat baca terhadap pemuda zaman sekarang?

Melihat realita yang ada sekarang, mahasiswa membaca atau pergi ke perpustakaan hanya ketika mereka mendapat tugas dari dosen, seperti membuat makalah. Mereka pergi perpus untuk mencari refrensi, lalu mencarinya dimesin komputer dan meminjamnya. Sesampainya dirumah mereka membuka bab yang berisi materinya, lalu mengetiknya di laptop ataupun komputer. Mereka mengetik tanpa membaca, memahami setiap kata, mereka langsung menelan mentah-mentah tanpa mengolah kalimat yang ada dibuku. Apalagi dengan adanya internet, mereka tinggal nyomot-nyomot atau mencopy paste sesuka hati mereka.
Dengan adanya kemudahan tersebut, mereka cenderung kurang menghargai karya, konsumtif, tidak menyadati kalau sikapnya merugikan orang lain. Mereka cenderung apatis dengan lingkungannya. Bagaimana nasib bangsa ini kedapannya jika pemuda sebagai penerus bangsa tidak mau membaca ?
Kita hidup di zaman melinium abad 21 yang dimana-mana serba instan dan modern dengan teknologi.
Dulu uang terbuat dari emas, lalu berganti ke uang kartal (uang yang terbuat dari kertas dan logam), sekarang bertransformasi menuju uang plastik (e-money, atm, kartu kredit).
Kalau dulu orang mengirim pesan atau surat melalu pos, dizaman serba canggih kini jika seseorang ingin  mengirim pesan  ke sausara kerabat jauh beda pulau, mapun negara tinggal menyentuh layar virtual, SMSpun sudah perjalanan menuju siempunya yang punya nomer.
Telegrampun sama akhirnya tenggelam oleh derasnya kecanggihan.
Membaca tak bisa dipisahkan dengan sebuah buku. Dibeberapa tahun lalu buku masih menjadi sarana menggali pengetahuan, namun sekarang e-book perlahan-lahan mengambil posisi buku(fisik). Betapa tidak, kecanggihan elektronik sekarang Tablet, Laptop, Handphone, dengan satu aplikasi saja bisa diisi berbagai macam buku, lebih praktis dan efektif. Dimanapun  dan kemanapun kita bisa membaca buku.
Akankah buku mengikuti jejak Telegram yang hilang ditelan zaman?
Memang masih terlalu awal untuk mengatakan bahwa buku akan punah dan tergantikan oleh e-book . Apakah masih ada penerbit buku di beberapa tahun kedepan ?
Yuks mari, selamatkam buku dengan cara membaca buku , minimal sehari satu halamanm baca apa saja. Toh, tidak ada ruginya menyisihkan waktu dengan membaca ,daripada menghabiskan waktu dengan bermain gadget sampai lupa waktu.
Minimal Selamatkan generasi muda supaya tidak lupa sejarah bangsanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suara Hati Anak Tunggal

Lelaki Sejati Tidak Bermain Barbie.

Nilai Dasar Pergerakan (NDP) sebagai KOMPAS Pengungat dan Petunjuk Insan Pergerakan